2009年11月3日星期二

Bahasa Gaul

Pada minggu ini saya belajar sejenis gejala bahasa yang baru yaitu “Bahasa Gaul” dalam kuliah Bahasa Indonesia. Mengikut cuplikan filem “Ada Apa dengan Cinta” dan artikel “Bahasa Gaul Tantangan Berat Pengembangan Bahasa Indonesia”, kedua karya mempunyai tema yang sama yaitu resiko bahasa gaul dan kepentingan bahasa Indonesia yang baku sebagai bahasa kebangsaan. Namun, pada pandangan saya, bahasa gaul tidak dapat dikatakan “merusak” bahasa Indonesia. Sebaliknya, gejala tersebut adalah satu tanda yang menunjukkan bahwa bahasa Indonesia adalah satu bahasa yang masih berkembang dengan pesat. Bahasa gaul ini sebenarnya adalah produk dari penggunaan bahasa lisan harian. Kebanyakan bahasa gaul merupakan kata-kata yang terubah sebagian fonemnya (satuan kata yang terkecil) supaya lebih enak disebutkan. Contohnya, kata “mengasih” dijadikan “ngasih”; kata “sebentar” dijadikan “entar”; kata “menulis” dijadikan “nulis” dan sebagainya. Selain daripada itu, bahasa gaul ini juga mengandung kata-kata yang terubah menjadi lebih ringkas dari segi morfologinya. Misalnya, kata “curhat” adalah singkatan dari frasa “curahan hati”; kata “barusan” dari “baru saja”; kata “diapain” dari “diapakan” dan lain-lain. Semua ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, berkembang dan masih mengalami proses evolusi. Ini seperti sejarah evolusi manusia juga. Organ yang berguna akan dikembangkan seperti tangan manakala organ yang sia-sia (kurang berguna) akan disingkirkan seperti ekor. Tidak peduli dijadikan bentuk apa, ia diubahkan hanya untuk lebih enak digunakan oleh manusia. Sama dengan bahasa, ia adalah peralatan komunikasi manusia. Semua perubahan bahasa hanya untuk lebih mudah dikomunikasikan. Perkembangan ini perlu menerima perkataan baru dari masa ke masa. Kalau bahasa sudah berhenti menerima kata baru, ini adalah tanda bahwa bahasa ini menuju ke arah bahasa mati seperti bahasa sanskrit. Oleh karena itu, gejala “bahasa gaul” bukanlah kelakuan yang merusakkan bahasa Indonesia. Gejala ini hanya adalah sejenis gejala yang normal bagi sesuatu bahasa yang masih hidup. Jadi, menurut saya, lembaga atau institusi pemerintah tidak perlu susah-payah dengan tegasnya mengatur penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Pengawalan penggunaan bahasa Indonesia yang baku akan menjadikan bahasa Indonesia tidak berkembang seperti disebut di atas bahkan kematian. Sama dengan pihak sensor bagi media massa, karya filem sinetron atau tulisan adalah cermin kehidupan masyarakat yang benar. Kalau tegas disensor, bahasanya akan menjadi kurang aktif sehingga karyanya pun turut luntur.

Bahasa apa pun yang masih hidup mestinya ada gejala bahasa gaul, termasuk bahasa Inggeris, bahasa Mandarin, bahasa Hindi dan sebagainya. Peraturan penggunaan bahasa yang baku perlu diadakan di sesebuah negara. Ini adalah untuk membinakan sebuah bahasa yang dapat diertikan/dimengerti oleh semua anak bangsa dari setiap pelosok negara. Hal ini penting karena melalui bahasa kebangsaan yang satu dapat menyebarkan serta memperkukuhkan semangat nasionalisme di seluruh negara. Namun, ini tidak kena-mengena dengan isu “bahasa gaul”. Walaupun kedudukan tingginya ditempati bahasa kebangsaan yang baku, tetapi pihak pemerintah masih perlu mengizinkan gejala dialek dan bahasa gaul yang cukup menggairahkan bahasa dan kehidupan kita.

2009年10月19日星期一

Happy Diwali!

Hari Sabtu ini adalah perayaan Diwali! Semua orang India di kota Madison membanjiri pusat kampus yaitu bangunan Memorial Union untuk menonton persembahan perayaan Diwali. Mereka cantik-cantik dalam pakaian tradisional India. Saya pun mengikut kawan India saya ke sana demi mempelajari suatu kebudayaan yang sungguh unik serta menikmati suasana meriah.

Kebanyakan acara adalah tarian, tarian tradisional dan juga tarian moden. Setahu saya, tarian tradisonal ini mengekspresikan keikhlasan kepada tuhan-tuhan Hindu. Tarian modern yaitu tarian Micheal Jackson menjadi klimaks seluruh persembahan. Arun, seorang pelajar India, yang sangat pandai menari dan meniru gaya Michael Jackson boleh dikatakan sudah menghidupkan kembali roh Michael Jackson demi memperingati kebesaran seniman ini. Saya terka Arun mesti jadi terkenal di kampus setelah persembahan ini. Selain itu, persembahan fesyen juga amat menarik hati! Melalui acara ini, saya belajar bahwa pakaian tradisional India perempuan meliputi Sari, Salwar Kameez, Ghaghra Cholis (Lehengas) dan bagi lelaki adalah Dhoti, Lungi dan Kurta. Semuanya cantik dan berwarna-warni! Di samping itu, deklamasi sajak dan komedi sangat disukai oleh penonton India di sana, tapi saya langsung tidak mengerti! Selepas itu, jamuan makan dimulai di Lake Front. Saya mendapat peluang merasai makanan tradisional India. Sambil makan, bunga api diletupkan di tepi tasik/danau Mendota. Semua orang keluar menyaksikan saat yang sungguh suka ria dan riang gembira. (Tetapi itu buat saya rindu rumah!! Sebab ini mirip dengan suasana tahun baru Tiongkok!) Mereka memasang bunga api karena perayaan Diwali ini berarti perayaan cahaya. Diwali melambangkan kemenangan baik atas buruk, dan lampu dinyalakan sebagai tanda perayaan serta harapan umat manusia. Perayaan Diwali dirayakan selama lima hari berturut-turut dalam kalender Hindu bulan “Ashwayuja”. Biasanya Diwali terjadi pada bulan Oktober dan November. Pada tahun ini, Diwali jatuh pada tanggal 17 Oktober. Umat Hindu, Jain, dan Sikh sama-sama menganggap festival ini sebagai perayaan hidup dan menggunakan perayaan ini untuk memperkuat tali persaudaraan antara keluarga dan teman. Memang begitu, saya melihat semua pelajar India di Madison lebih rapat hubungan mereka selepas perayaan ini.







2009年10月15日星期四

Pesta Pelajar Perempuan

Kebanyakan pelajar di universitas saya (Universitas Pengajian Bahasa-Bahasa Asing Beijing) di Cina adalah pelajar perempuan. Oleh karena itu, Pesta Pelajar Perempuan diadakan setiap tahun untuk mewarnai kehidupan mahasiswa-mahasiswi.

Pesta Pelajar Perempuan biasanya dilangsungkan selama satu minggu dan dimulai pada hari Senin.
Acara pesta ini dibuka dengan ceramah yang berjudul “Cara Betul untuk Memakai Coli”. Banyak informasi telah disampaikan oleh pakar coli. Ini termasuk cara mengukur buah dada, cara memilih coli yang sesuai, cara betul untuk memakai coli dan sebagainya. Suasana ceramah ini sangat meriah karena ceramah seperti ini jarang diberikan. Walaupun judul ini memang memalukan/tabu dibicarakan secara umum, kebanyakan pelajar perempuan giat berpartisipasi/berperan dalam interaksi di dalamnya. Tamatnya ceremah ini, cenderamata juga diberikan kepada semua pelajar yang berada di sana.

Pada hari seterusnya, “Pasar Khayalan” dilaksanakan di dataran pusat kampus kami. Kerajinan tangan tradisi Tiongkok seperti kipas, topeng dan lain-lain dijual di pasar tersebut. Pertandingan mereka-bentuk serta melukis di atas kasut dan baju-T yang kosong juga diselenggarakan. Selain itu, kaunter untuk mewarnakan kuku adalah yang paling popular. Semua pelajar perempuan dalam universitas kami bisa dikatakan telah tenggelam dalam perasaan gembira dan bahagia.

Pada hari terakhir yaitu pada malam hari Jumat, acara pesta ini dilabuhkan/diakhiri dengan persembahan model mahasiswa. Niscaya, pelajar lelaki dipastikan datang. Pelajar perempuan memakai pakaian yang direka-bentuk sendirinya dengan menggunakan kertas atau surat kabar saja! Setelah itu, semua pelajar menari dan menyanyi bersama-sama. Pada waktu itu, pelajar perempuan digalakkan untuk mengeluarkan perasaan diri mereka, termasuk perasaan cinta dan juga perasaan benci, kepada pelajar lelaki! Haha.

Secara ringkas, Pesta Pelajar Perempuan ini diadakan khas untuk pelajar perempuan supaya mereka dapat menikmati suasana yang gembira dan bahagia. Pesta ini semakin hari semakin popular sehingga banyak universitas di Beijing mengadakannya. Pesta Pelajar Lelaki juga dijalankan baru-baru ini. Pesta-pesta seperti ini tidak saja mewarnai kehidupan mahasiswa-mahasiswi, tapi juga menyebarkan budaya tradisi serta budaya modern masyarakat Tiongkok.

2009年10月4日星期日

Perayaan Meriah Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-60 Republik Rakyat Tiongkok

Setiap tanggal 1 Oktober, adalah hari yang luar biasa bagi orang Tiongkok.

Tanggal 1 Oktober tahun 1949, (almarhum) pemimpin Tiongkok, Mao Zedong di Rostrum Tian'anmen, distrik pusat Kota Beijing memproklamirkan ke dunia lahirnya Tiongkok Baru. Setelah lewat 60 tahun, juga di Rostrum Tian'anmen, Tiongkok mengadakan parade militer dan pawai massa yang meriah untuk memperingati hari besar ini.

Pukul 10 pagi waktu Beijing, 60 tembakan kehormatan yang menandakan genap 60 tahun berdirinya RRT dilepaskan di Lapangan Tian'anmen. Dengan demikian perayaan dimulai.

Presiden Tiongkok Hu Jintao dengan mengendarai mobil "Hongqi" buatan domestik, bertolak dari Jembatan Jinshui depan Menara Gerbang Tian'anmen, menyusuri Jalan Chang'an dan memeriksa anggota Tentera Pembebasan Rakyat Tiongkok dari barat ke timur.

Usai mengakhiri pemeriksaan, Presiden Tiongkok Hu Jintao memberi pidatonya bahwa rakyat Tiongkok berkeyakinan dan berkemampuan membangun negara, sementara juga menyumbangkan amalnya kepada dunia.

Selepas itu, upacara perayaan dimulai. Barisan kehormatan tiga angkatan bersenjata dengan mengusung Panji Militer " BA Yi" Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, memimpin 56 formasi yang akan menerima pemeriksaan, satu per satu melewat Lapangan Tian'anmen sehingga dengan resmi membuka prolog parade militer ke -14.



Usai parade militer selama satu jam, dua formasi barisan kehormatan yang mengusung ' Bendera Nasional, Lambang Negara ' membuka prolog pawai massa. Dengan diiringi lagu "Hongqi Song", 1949 pemuda dengan mengusung bendera nasional " Bendera Merah Bintang Lima " yang terbesar dalam sejarah memimpin pawai massa.


Seluruh lapangan terdengar lagu " Menyanyikan untuk Memuji Tanah Air", ini telah mendorong klimaks seluruh kegiatan perayaan.

Orang Tiongkok yang menonton di Lapangan tak pelak lagi adalah kelompok yang paling bahagia hari ini. Namum demikian, lebih banyak rakyat Tiongkok bahkan melalui siaran langsung televisi, radio dan internet menyaksikan perayaan meriah di Lapangan Tian'anmen. Tetapi saya tidak sempat melihat siaran langsung pada waktu itu karena saya terpaksa mengulangkaji kuliah saya untuk ujian pertengahan sekolah! Sedih sangat-sangat saya!

Walaupun begitu, saya merasa sungguh bangga pada Hari Ulang Tahun ke-60 berdirinya RRT. Selama 60 tahun, Tiongkok merealisasi transisi dari negara miskin dan lemah ke negara besar yang utama, sementara mulai menempuh jalan kebangkitan! Saya harap negara saya dapat terus dipertingkatkan kedudukannya di arena dunia dalam pelbagai sektor!

2009年9月29日星期二

Proyek 1 Wawancara Dengan Orang Indonesia Tentang Studi Kusus

Waktu saya belajar di universitas di Cina, selain dari jurusan bahasa Malaysia yaitu jurusan yang saya terlibat, saya mendapati bahwa ada satu lagi jurusan yang hampir sama dengan jurusan saya, yaitu jurusan Bahasa Indonesia. Jadi, pada saat itu, saya berfikir kalau bisa tahu persamaan dan perbedaan antara kedua bahasa ini, dapatlah kami berkomunikasi dengan banyak orang di kawasan Nusantara! Ini juga adalah alasan/motivasi saya datang ke Madison untuk sambungkan pelajaran.

Jadi tema pengajian saya adalah Perbandingan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Malaysia. Pandangan orang Indonesian pada persoalan ini juga adalah salah satu bagian yang penting dalam pengajian saya. Oleh karena itu, saya mewawancarai dua orang Indonesia di Madison yaitu Mbak Sakti, jurusan bahasa Inggris, S1 dan Mbak Amelia, jurusan sejarah, S3. Jangka masa wawancara selama satu jam masing-masing.

Terdapat tiga pertanyaan yang utama.

Yang pertama, saya ingin tahu apakah pada/menurut pandangan mereka, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah bahasa yang sama atau tidak sama. Keduanya berpendapat bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah bahasa yang sama dan juga tidak sama. Berbicara sama, sebab akar kedua bahasa ini adalah bahasa yang sama yaitu bahasa Melayu. Dan keduanya dapat menjelaskan sedikit banyak tentang asal usul Bahasa Melayu. Setahu mereka, Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Melayu pernah menjadi bahasa perantaraan/pengantar yaitu ”lingua franca” di negara-negara Nusantara suatu masa dahulu. Setalah itu, mereka berbicara bahwa kedua bahasa ini tidak sama juga karena bahasa berkembang, jadi kewujudan dialek di kawasan masing-masing membawa perbedaan kepada bahasa Melayu. Mbak Amelia menambah lagi proses nasionalisasi juga menjadikan kedua bahasa ini berbeda yaitu pemerintah kedua negara ingin membedakan bahasa kebangsaan mereka sebagai salah satu identitas negara. Kemudian, saya juga bertanya kepada mereka perbedaannya dalam aspek yang apa. Keduanya memberi jawaban yang hampir sama yaitu aspek pilihan kata, sebutan, intonasi.

Pertanyaan kedua adalah apabila berkomunikasi dengan orang Malaysia, apa bahasa yang digunakan oleh mereka yaitu terus menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Malaysia. Mbak Sakti berkata bahwa dia akan terus menggunakan bahasa Indonesia. Ini disebabkan dia merasa lebih percaya diri dengan menggunakan bahasa Ibundanya. Sedangkan/sementara itu Mbak Amelia berpendapat bahwa dia akan coba sedaya upayanya menggunakan perkataan bahasa Malaysia untuk mengelakkan kesalahfahaman. Dan dia juga berkata bahwa orang Malaysia yang dia pernah berkomunikasi dengannya juga akan membanyakkan guna bahasa Indonesia. Mbak Amelia panggil proses ini negosiasi antara percakapan/pembicaraan mereka. Apa yang menarik di sini adalah waktu saya tanya apakah mereka pernah ada cerita yang lucu sesaat berkomunikasi dengan kawan Malaysia, keduanya memberi pengalaman yang menarik. Mbak Sakti berkata, suatu hari di Madison, cuaca sangat dingin, waktu dia menunggu bus, Mbak Sakti jumpa seorang kawan Malaysia, kawan Malaysia itu berkata ”lama kereta tak nampak, sejuk sekali! ” Tapi kalimat ini dalam bahasa Indonesia maknanya adalah: ”Haven’t seen the Carriage for a long time, So Cool and Comfortable!” haha. Kalau dalam bahasa Indonesia sepatutnya adalah: lama mobil tak nampak, dingin sekali! Manakala pengalaman Mbak Amelia lagi menarik. Suatu hari ada seorang dosen Malaysia, laki-laki, datang ke Madison. Dia jumpa dosen-dosen dari Indonesia. Dosen Indonesia di Madison semuanya adalah perempuan. Dosen Malaysia itu merasa dosen Indonesia ini sangat ramah-tamah. Jadi dia berkata ”dosen Indonesia sangat Mesra dan saya Seronok lah.” Wah! Dalam bahasa Indonesia, kata mesra berarti meresap yang hanya digunakan untuk menunjuk hubungan batin dan kata seronok juga menunjukkan perasaan cinta-asmara. Jadi semua dosen Indonesia ingat ada konotasi dari dosen Malaysia itu. Haha.

Walaupun begitu, waktu saya tanya apakah mereka akan belajar perbedaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia supaya dapat berkomunikasi dengan orang Malaysia lebih efektif dan lancar, mereka keduanya menjawab bahwa tidak akan belajar perbedaan khasnya. Hal ini karena mereka merasa tidak ada masalah yang besar dalam berkomunikasi dengan orang Malaysia. Mereka dapat belajar perbedaan kedua bahasa ini melalui pengalaman harian.

2009年9月19日星期六

orang hutan!

Orang Hutan!

Beberapa kata bahasa Indonesia bisa dimengerti oleh orang yang belum pernah belajar bahasa Indonesia. Contohnya kata ‘sate’ atau ‘bambu’. Maklum, terdapat beberapa perkataan bahasa Inggeris diambil dari bahasa Indonesia atau bahasa Melayu. Misalnya, paddy dari “padi”, “compound” dari “kampung”, “orangutan” dari “orang hutan”! Hal ini terjadi karena benda-benda tersebut hanya didapati atau muncul dengan paling awalnya di kawasan Indonesia! Tetapi, Hari ini saya tidak akan berbincang tentang kata pinjaman. Saya ingin menceritakan binatang yang unik itu di Indonesia yaitu ORANG HUTAN!

Orang hutan berarti manusia yang hidup di kawasan rimba. Ini mungkin karena mereka mempunyai struktur tubuh/badan yang hampir sama dengan manusia. Orang hutan memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, berlengan yang panjang dan kuat, berkaki yang pendek, dan tidak mempunyai ekor. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. Tubuh orang hutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Di samping itu, mereka mempunyai pancaindera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba. Selainnya, telapak tangan mereka mempunyai empat jari panjang ditambah satu ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia. Oleh karena itu, orang hutan dapat memegang benda dengan tangan atau kakinya. Orang hutan mempunyai juga kantung tenggorokan yang besar yang membuat mereka mampu membuat panggilan jarak jauh yang dapat didengar dalam radius 1 km. Suara itu digunakan untuk menandai kawasan diri mereka, memanggil sang betina, mencegah orang hutan jantan lainnya yang mengganggu.

Orang hutan dapat ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo/Kalimantan dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Tetapi, orang hutan termasuk makhluk pemalu. Mereka jarang memperlihatkan dirinya kepada orang atau makhluk lain yang tak dikenalnya.


Sebagian besar orang hutan hanya memakan tumbuhan. Makanan kesukaan orang hutan adalah buah-buahan. Makanan lainnya juga termasuk daun-daunan, biji-bijian, kulit kayu, bunga-bungaan, dan sebagainya. Selain itu mereka juga memakan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya seperti burung dan mamalia kecil.


Orang utan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8.5 hingga 9 bulan yaitu hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orang hutan dapat hidup dengan sendirinya pada usia 6-7 tahun.


Namum, saat ini orang hutan merupakan binatang langka, karena manusia seringkali pula menjual bayi-bayi orang hutan secara ilegal untuk dijadikan hewan peliharaan. Diperkirakan populasi orang utan di seluruh dunia baru-baru ini hanya berjumlah 100.000 ekor.

2009年9月11日星期五



Menurut cerita dalam Kitab Bible, selepas Banjir Besar, pelangi yang pertama dapat dilihat di atas langit. Sementara itu, Tuhan bercakap, “Saya meletakkan pelangi ini dalam awan-awan. Pelangi ini adalah lambang bagi perjanjian antara bumi dan saya. Selagi awan-awan sudah menutup bumi, pelangi ini muncul supaya memperingati perjanjian antara bumi dan saya. Kanera itu, banjir tidak akan berlaku lagi sehingga memusnahkan hidupan di atas bumi ini.” Selepas itu, kota pertama, yakni kota Babilon, didirkan untuk menyatukan seluruh umat manusia yang semuanya bercakap dalam satu bahasa. Akan tetapi, ada seorang bercakap, “Bagaimana kita memastikan Banjir Besar itu tidak berlaku lagi? Pelangi itu tidak dapat menjaminkan apa-apa. Kita janganlah menyerahkan masa depan kita dan nasib anak-anak kita kepada Si Pelangi itu.” Setalah medengar percakapan ini, ramai penduduk kota Babilon amat bersetuju dan mengambil keputusan bahawa membangun sebuah menara yang hebat sehingga mencecah langit. Mereka berkata, "Marilah kita dirikan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi," Disebabkan mereka dapat komunikasi secara lancar dalam bahasa yang sama, Menara Babel dapat dibina secara cepat dan megah. Namun, hal ini menimbulkan Tuhan murka karena perjanjiannya disyaki oleh manusia sehingga Tuhan menghukumkan manusia dengan mencerai-beraikan bahasa manusia sehingga mereka tidak bisa memahami bahasa mereka antara satu sama lain. Menara Babel itu juga tidak dapat diselesaikan. Oleh karena kisah itu, perkataan “Babel” sekarang diberi erti “kehuru-haraan” dalam bahasa Inggeris.

Saya amat suka kisah ini.

Dalam keagamaan, kisah ini mengkritik keangkuhan, kesombongan manusia yang akhirnya menuju ke kacauan.

Tetapi, saya ada pendapat yang lain.
Pertama, kisah ini memberi kita implikasi dalam usaha mempelajari sesuatu bahasa asing. Contohnya, apabila belajar perkataan “babel”, kalau hanya mengingat “B-A-B-E-L” mempunyai erti “kacauan” amatlah susah. Tetapi kalau membaca kisah “Menara Babel” ini, pasti sulitnya lupakan ertinya. Di samping itu, semua perkataan yang berkaitan dengan “babel”, seperti “babelism” dan “babelize” juga mempunyai erti “kacau”. Oleh itu, pada pendapat saya, mempelajari kata tunggal dan etimologi perkataan itu amat penting. Dengan kata lain, membelajari sesuatu bahasa asing tidak saja mengingat perkataan yang baru tetapi juga memahami budaya dan sejarah di belakang sesuatu bahasa itu.

Yang kedua, setelah saya belajar bahasa Indonesia, saya sedar bahawa budaya manusia di kawasan Asia mempunyai banyak kesamaan. Kita patutlah menggunakan kesaamaan ini untuk menghapuskan kesalahfahaman antara satu sama lain dan hidup dalam keadaan aman damai bahkan bersatu patuh. Walaupun Menara Babel tidak diselesaikan dalam sejarah, tetapi setelah munculnya usaha penterjemahan, semua manusia di seluruh dunia dapat dihubungjalinkan lagi.

Bahasa, ia adalah kunci, tingkap, dan jambatan. Bahasa membawa kita memasuki sebuah dunia yang baru dan juga memahami dunia kita sendiri secara lebih jelas.

Oleh karena ini, saya membuka blog ini, dengan bahasa yang indah ini, untuk mempersembahkan dunia yang multibudayanya. Di samping itu, saya menamakan blog ini “Menara Babel”, semoga mendirikan sebuah Menara Babel di dalam semua hati manusia yakni melambangkan persahabahan, kesejahteraan dan penghargaan.